Expression of C@ndy...

Expression of C@ndy...
Hanya semangkuk penuh ekspresi gula-gula yang tampak manis................Coba tuangkan dalam kata tuk resapi hati............. This is just a story inspired by a true story of a friend..............Just read it and sink in with your heart............ Expression of Candy...........It's just a real taste of candy.........Making love out of nothing at all...

Jumat, 16 November 2018

Apakah...?

Cinta apalah arti sebuah cinta yg sebenarnya. Aku serasa menginginkan semua. Egoisnya aku.  Lalu bagaimana dg yg lain. Tak kebagian. Dulu mungkin aku begitu. Sekarang,  tidak.  Aku bukan lagi putri. Bagaimana dg ratu? Sepertinya begitu. Kalau demikian bahagialah aku.

Seperti itu orang menanggapku.  Beruntung.  Bahagia. Itu yg orang pikir tentangku. Tak pernah puas.  Itu perasaanku. Lalu mau apa sesungguhnya aku ini? Tak tahu.  Aku tak tahu harus bagaimana yg semestinya. Bingung.  Apa yg sebenarnya aku cari. Aku kelu denganmu yg aku pikir religius.  Nyatanya duniawi. Kecewalah hatiku.  Melihat semua kenyataan ini.  Tak ada yg sempurna.  Sudahlah.  Pikirku. Lalu kau mulai berbentuk seperti inginku. Aku sedikit lega walau merasa agak terlambat. Mengapa tak semenjak dulu.  Sedari awal dahulu. Mungkin aku terlalu puas.  Merasa tlah mereguk semua.  Tanpa ada yg kuingini lagi. Walau ternyata itu semua kosong. Dan pemilikmu merasa memilikimu sepenuhnya,  seutuhnya.  Bukan aku. Aku hanya pemilik semu. Tak berhak sampai seperti itu. Aku hanya menarik nafas panjang.  Merasa tertipu selama ini.  Tapi tak bisa berbuat apa2.  Hanya berusaha ikhlas menikmati. Tanpa mau mengeluh. Lalu berujar dalam hati.  Lantas apa yg aku cari? Aku ingin melangkahkan kaki.  Meneruskan perjalanan dalam arah putar balik.  Namun dicegatnya.  Mau apa sebenarnya dia ini.  Tidak jelas dan tampak tak mau tahu menahu. Yang ia mau hanya memiliki tak peduli yg lain.  Sementara aku ingin banyak menuntut ini itu. Tapi tak diberi.  Kesempatan itu dirampas dariku.  Pikirnya aku tak berhak.  Walau sebenarnya milikku semuanya.

Aku merasa tlah merelakan semua walau sebenarnya tak ingin.  Kuserahkan begitu saja kepada siapa saja. Hingga aku mulai tersadar dan menyesal.  Menyesali semua yg pernah ada.  Tercipta,  terbentuk dan hadir karena seizinku. Masih mungkinkah kubentuk kembali? Kuatur sesuka hati.  Menata ulang dalam duniaku.

Kepalang basah.  Semuanya berjalan dan semua bahagia. Menikmati jalannya masing2.  Menempuh hidup baru yg masing2 impikan. Hanyalah aku.  Disini, sendiri.  Berdiam diri dan terpaku. Menyesali langkah yg terlanjur kujalani. Tak ingin kata itu terucap namun demikian yg kurasa. Sekali lagi,  bingung.  Harus diapakan.  Dikoyak,  dihempas. Inginku menghujamnya,  melempar sejauh mungkin, hingga takkan kembali.  Namun aku terlalu sayang.  Memaknai tiap kehadirannya. Tlah terbiasa dalam keberadaannya. Mulai lumrah dengan semua yg pernah ada.

Aku hanya ingin semua bahagia denganku,  karenaku atau bahkan tanpaku. Masa bodoh kalau mereka tak peduli.  Tak mengerti hatiku. Tuhan tahu,  aku yakin itu.  Dan itu lebih dari cukup buatku. Seolah aku membuang garam di laut.  Tak mengapa. Tuhan memperhatikannya,  bahkan menghitungnya. Demikian harapku.

Senin, 13 Februari 2017

Sebening embun...

https://youtu.be/w0dB3UO3y2M

Titanium

Aku...

Aku (Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Jumat, 27 Januari 2017

Wanita perkasa...

Jadilah Wanita maskulin. Wanita yg kuat, tangguh, dan bisa bertahan dalam cobaan apapun.
Wanita maskulin bukanlah wanita berotot atau cewek bercelana, berkemeja apalagi merokok. Dialah cewek tahan banting. Yang mengedepankan rasio. Berpikir dengan logika bukan perasaan. Aku ingin mencari, menemukan tepatnya mengidolakan. Lalu teringat mengapa susah2 mencari, my mom is the answer. All in one.

Sabtu, 21 Januari 2017

?

Papan tulis, kapur dan radio...
Aku hanya sehelai pekat yang terlihat bila kau ukir. Hanya dengan demikian aku tampak. Tapi entahlah bodohnya aku harus berdampingan dengan sebuah benda berisik yg sok tahu. Tak hentinya berkoar tentang apa saja. Bisakah sesekali ia mengerti duniaku yg tak banyak suara. Suara cemprengmu tak ubahnya alat musik usang kerap buatku seolah mengeretak. Meretakkan serat2 tubuhku yg merapuh, terendam nada2mu.

Seperti air dan ikan. Karena gerakmu aku hidup, demikian juga kamu dalam tenangku kau menari. Kita berjalan dan saling butuh tapi timpang. Dan anehnya tak ada yang tahu. Kalaupun ada yg tahu, seolah biasa.
Kalau hujan turun tampaklah separuh aku dan kamu. Yg sebenarnya tertutup pandangan. Walau demikian aku sedikit tersamar. Seolah itu aku yg menari. Aku menjadi kamu. Dan kamu berbaur didalamnya. Tahukah kamu, itu bukanlah aku. Barangkali itu hanya sebentuk kamuflase tentang aku. Aku tetaplah aku dalam tenang aku diam tersipu. Aku tidak akan bergolak tanpa kau hentak. Gejolak itu hanya karenamu yang berupaya menyentuhku. Kalau saja aku mampu merendammu, habislah semua. Sayang aku hanya mampu memendammu.